Find us on Google+

Pages

Saturday, January 17, 2015

SEJARAH QASIDAH BURDAH


Pernahkah anda mendengar istilah qasidah burdah? Sebagai warga NU mungkin pernah dengar atau bahkan sering melafalkan qasidah tersebut. Qasidah burdah merupakan kumpulan sajak atau syair pujian kepada Nabi Muhamad.

Pada zaman Rasulullah syair-syair merupakan sesuatu yang sangat disenangi bangsa arab pada masa itu. Syair-syair banyak digunakan pada masa itu sebagai media untuk menyampaikan sesuatu. Seperti layaknya media masa pada zaman sekarang. Karena biasanya jika seorang penyair sudah mengeluarkan syair, maka hampir semua masyarakat akan mengikuti, serta menghafalkannya.

Termasuk sejarah qasidah burdah ini. Menurut sejarah hal ini dimulai ketika seorang arab bernama ka’b bin Zubair bin Abi Salma mencaci Nabi dengan syairnya. Seperti kebiasaan masyarakat pada umumnya, semua orang yang membenci nabi pun ikut melafalkan syair-syair yang menjelek-jelekan Nabi. Seiring berjalanya waktu sampai juga pada telinga Nabi Muhamad SAW karena banyak dari para sahabat yang mengadukan tentang hal itu.

Akhirnya salah satu sahabat menawarkan diri untuk mencari dan berniat untuk membunuh si penyair tersebut. Nabi Menyetujui hal itu. Dan mulailah pencarian kepada Ka’b bin Zubair bin abi salma. Kabar pencarian penyair itupun tersebar. Dan sang penyair yang dimaksudpun akhirnya mengetahui bahwa dia sedang diburu oleh sahabat nabi untuk dibunuh. Setelah lama bersembunyi, dia ketakutan dan akhirnya berniat untuk mendatangi nabi.

Pada saat waktu subuh ka’b datang ke masjid untuk menemui Rasulullah yang kala itu sedang melakukan sholat. Awalnya dia meminta bantuan kepada para sahabat Nabi untuk menemani menemui rasulullah. Namun mereka semua menolak karena Rasulullah yang terlihat sangat marah sehingga para sahabat tidak berani menemani Ka'b.

Karena keinginanya yang sangat besar, Ka’b memberanikan diri untuk menemui Rasulullah sendirian namun dengan ditutup wajahnya menggunakan sorban. Dalam pertemuanya dengan Rasulullah Ka’b menenyakan kepada Rasulullah “ apakah benar kau sedang mencari seorang yang bernama ka’b dan berniat membunuhnya karena mencacimu?”. “benar “ jawab Rasul. Lalu ka’b menanyakan kembali kepada Rasul, “ apakah jika orang itu mendatangimu dan meminta maaf kepadamu kamu akan memaafkanya”. “ iya akan saya maafkan” begitu rasul manjawabnya”. Pertanyaan kembali diajukan oleh Ka’b “ apakah jika dia memeluk islam kamu akan mempercayai keislamanya?” kembali Rasul menjawab “ iyah aku mempercayainya”. Tenang mendapati jawaban Rasul, Ka’b membuka sorbanya dan menyatakan diri masuk islam.

Ka’b menyatakan mempercayai kerasulan Nabi Muhamad SAW dan membuat syair pujian kepada Rasulullah langsung dihadapan Rasulullah SAW. Tidak disangka Rasul tidak menolak pujian itu dan bahkan Beliau terharu hingga menitikan air mata. Dan ka’b di hadiahi Rasul selimut yang beliau pakai pada waktu itu. Selimut tersebut bermotif lurik. Orang-orang pada masa itu menyebutnya dengan Kain Burdah. Konon selimut lurik pemberian rasululloh masih tersimpan di museum di turki.
Semenjak saat itu, syair-syair yang berupa pujian kepada Nabi muhamad disebut dengan burdah.

Demikian sedikit yang bisa sampaikan. Semoga bisa bermanfaat. Tulisan ini saya tuliskan berdasarkan ceramah K.H Said Aqil Siradj pada acara Khaul PP Al Huda Kebumen. Mohon maaf jika ada kesalahan baik dalam penulisan maupun isi dari tulisan. Semoga bermanfaat bagi kita semua

Nasrulloh Ibnutora , Updated at: 1:32 PM

0 comments:

Post a Comment

thanks for visit

VIVA